PENDIDIKAN KARAKTER DI ERA GLOBALISASI
MAKALAHIlmu Budaya Dasar“PENDIDIKAN KARAKTER DI ERA GLOBALISASI”
Dibuat Oleh :
Abiyu Daniswara ( 50415043 )
Kelas 1IA08
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
Mata Kuliah : Ilmu Budaya Dasar
Dosen : Edi Fakhri
Kata Pengantar
Puji dan Syukur saya
panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan penyertaan-Nya
saya dapat menyelesaikan tugas Ilmu Budaya Dasar ini. Makalah “Pendidikan
Karakter di Era Globalisasi” akan membahas tentang pendidikan karakter pada
remaja yang dimana berada pada Era Globalisasi.
Makalah ini masih jauh
dari sempurna, oleh karena itu segala macam pendapat atau kritik yang membangun
sangat diharapkan. Sekian dari saya semoga bagi pembaca makalah ini dapat
menambahkan sedikit pengetahuan, terimakasih.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Globalisasi
adalah intensifikasi hubungan sosial sejagat yang menghubungkan tempat-tempat
yang berjauhan sedemikian rupa, sehingga peristiwa lokal bisa terjadi
disebabkan oleh kejadian ditempat lain yang sekian mil
jauhnya dan sebaliknya
(Giddens, 1990:64).
Globalisasi sebenarnya
bukanlah suatu fenomena baru dalam sejarah peradaban dunia. Sebelum kemunculan
negara-bangsa,perdagangan dan migrasi lintas benua telah sejak lama
berlangsung. Jauh sebelumnya, perdagangan regional telah membuat interaksi
antarsuku bangsa terjadi secara alamiah.
Globalisasi sebagai
sebuah fenomena multi dimensi pada titik tertentu melahirkan berbagai
perspektif. Pada satu sisi para ilmuwan menganggap bahwa globalisasi adalah
sebuah paradigrma ilmu dalam keilmuan sosial saja, padahal jika kita melihat
aspek yang lebih luas dari pada globalisasi maka implikasi yang ditimbulkan
globalisasi juga mengarah pada perubahan yang signifikan terhadap pola
perkembangan sains dan teknologi dunia.
Sebagai sebuah konsep
Globalisasi selalu identik dengan konsep pengurangan kedaulatan sebuah negara,
penghilangan batas wilayah sebuah negara, kecanggihan teknologi, penyempitan
ruang dunia dan pengembangan transaksi perdagangan berdasarkan kepada pemikiran
perdagangan bebas.
Dampak globalisasi yang
terjadi saat ini sangat berpengaruh terhadap pendidikan karakter bangsa.
Kemajuan teknologi yang tak terbendung lagi, sedikit demi sedikit telah
mengikis pendidikan karakter bangsa.
Salah satunya adalah
internet. Internet merupakan salah satu faktor penyumbang terbesar dalam
memengaruhi pendidikan karakter. Sistem komunikasi berjaringan ini hadir di
tengah-tengah publik melalui komputer di rumah-rumah, modem, warung internet,
serta melalui layanan-layanan seperti Web-TV. Internet berkembang secara
fenomenal, tidak saja dari segi jumlah tetapi dari segi penggunanya (Haryati,
2007:1).
Beragam akses
terhadap informasi dan hiburan dari berbagai penjuru dunia dapat dilakukan
melalui satu pintu saja, menembus batas dimensi kehidupan penggunanya, waktu,
dan bahkan ruang sehingga internet dapat diakses oleh siapapun, kapanpun dan
dimanapun. Hanya dengan fasilitas search engine, situs pencari informasi maka
pengguna internet dapat menemukan banyak sekali alternatif dan pilihan
informasi yang diperlukannya dengan mengetikkan kata kunci di form yang
disediakan.
Masalahnya adalah
teknologi yang canggih ini belum di manfaatkan secara benar dan akhirnya
terjerat pada luasnya informasi yang menjerumuskan sehingga
dampaknya adalah merusak moral dan terabaikanya pendidikan karakter.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa pentingnya
pendidikan karakter di era globalisasi?
1.2.2 Apa cirri-ciri
dari merosotnya pendidikan karakter?
1.2.3 Cara-cara apa
saja yang dapat digunakan untuk menanamkan pendidikan karakter?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Pentingnya Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter merupakan hal terpenting untuk
membentuk kepribadian. Pendidikan itu tidak selalu berasal dari pendidikan
formal seperti sekolah atau perguruan tinggi. Pendidikan informal dan non
formal pun memiliki peran yang sama untuk membentuk kepribadian, terutama anak
atau peserta didik. Dalam UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 kita dapat melihat
ketiga perbedaan model lembaga pendidikan tersebut. Dikatakan bahwa Pendidikan
formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri
atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Sementara
pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang
dapatdilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.
Karakter bangsa merupakan aspek penting dari
kualitas SDM karena kualitas karakter bangsa menentukan kemajuan suatu bangsa.
Karakter yang berkualitas perlu dibentuk dan dibina sejak usia dini. Usia dini
merupakan masa kritis bagi pembentukan karakter seseorang. Lickona (1992)
menjelaskan beberapa alasan perlunya Pendidikan karakter, di antaranya:
(1) Banyaknya generasi muda saling melukai karena
lemahnya kesadaran pada nilai-nilai moral,
(2) Memberikan nilai-nilai moral pada generasi muda
merupakan salah satu fungsi peradaban yang paling utama,
(3) Peran sekolah sebagai pendidik karakter menjadi
semakin penting ketika banyak anak-anak memperoleh sedikit pengajaran moral
dari orangtua, masyarakat, atau lembaga keagamaan,
(4) masih adanya nilai-nilai moral yang secara
universal masih diterima seperti perhatian, kepercayaan, rasa hormat, dan
tanggungjawab,
(5) Demokrasi memiliki kebutuhan khusus untuk
pendidikan moral karena demokrasi merupakan peraturan dari, untuk dan oleh
masyarakat,
(6) Tidak ada sesuatu sebagai pendidikan bebas
nilai. Sekolah mengajarkan pendidikan bebas nilai. Sekolah mengajarkan
nilai-nilai setiap hari melalui desain ataupun tanpa desain,
(7) Komitmen pada pendidikan karakter penting
manakala kita mau dan terus menjadi guru yang baik, dan
(8) Pendidikan karakter yang efektif membuat sekolah
lebih beradab, peduli pada masyarakat, dan mengacu pada performansi akademik
yang meningkat.
Alasan-alasan di atas menunjukkan bahwa pendidikan
karakter sangat perlu ditanamkan sedini mungkin untuk mengantisipasi persoalan
di masa depan yang semakin kompleks seperti semakin rendahnya perhatian dan
kepedulian anak terhadap lingkungan sekitar, tidak memiliki tanggungjawab,
rendahnya kepercayaan diri, dan lain-lain.
2.2
Pemerosotan Pendidikan Karakter
Indonesia saat ini sedang menghadapi dua tantangan
besar, yaitu desentralisasi atau otoda yang saat ini sudah dimulai dan era
globalisasi total yang akan terjadi pada tahun 2020. Kunci sukses dalam
menghadapi tantangan berat itu terletak pada kualitas SDM Indonesia yang handal
dan berbudaya. Oleh karena itu, peningkatan kualitas SDM sejak dini merupakan
hal penting yang harus dipikirkan secara sungguh-sunguh.
Karakter bangsa merupakan aspek penting dari
kualitas SDM karena kualitas karakter bangsa menentukan kemajuan suatu bangsa.
Karakter yang berkualitas perlu dibentuk dan dibina sejak usia dini. Menurut
Freud, kegagalan penanaman kepribadian yang baik diusia dini ini akan membentuk
pribadi yang bermasalah di masa dewasanya kelak.
Thomas
Lickona, seorang professor pendidikan dari Cortland iniversity, mengungkapkan
bahwa ada sepuluh tanda-tanda zaman yang harus diwaspadai. Tanda-tanda itu
yaitu:
1. Meningkatnya kekerasan di kalangan remaja
2. Penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk
3. Pengaruh per-group yang kuat dalam tindak
kekerasan
4. Meningkatnya perilaku merusak diri
5. Semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk
6. Menurunnya etos kerja
7. Semakin rendanhnya rasa hormat kepada orang tua
dan guru
8. Rendahnya rasa tanggunga jawa individu dan warga
Negara
9. Membudayanya ketidakjujuran
10. Adanya rasa saling curiga dan kebencian diantara
sesama
Masalah lain yang dihadapi selain sepuluh
tanda-tanda tersebut yaitu system pendidikan dini yang ada sekarang ini terlalu
berorientasi pada pengembangan otak kiri(kognitif) dan kurang memperhatikan
pengembangan otak kanan (afektif,emapti, dan rasa).
Pada sisi lain, pembentukan karakter harus dilakukan
secaa sistematis dan berkesinambungan yang melibatkan aspek “knowledge,
feeling, loving, dan action”. Pada dasranya anak-anak yang berkarakter rendah
adalah anak yang berpotensi besar mengalami kesulitan dalam belajar,
berinterkasi social, dan tidak mampun mengontrol diri.
Thomas Lickona (1991) mendefinisikan orang yang
berkarakter sebagai sefat alami seseorang dalam merespons situasi secara
bermoral, yang dimanifestasikan dalam tindakan nyata melalui tingkah laku yang
baik, jujur, bertanggung jawab, menghormati orang lain dan karakter mulia
lainnya.
2.3
Cara-Cara Untuk Menanamkan Pendidikan Karakter
2.3.1
Menanamkan Karakter Didalam Diri Siswa
Karakter bangsa yang kuat mesti dibangun dalam diri anak
didik. Sebab karaktermenentukan lemah dan kuatnya seorang individu. “ Untuk
membangun karakter anak didik, mesti didukung dengan inisiatif kritis dan
memberikan waktu pada mereka yang mengemukakan ide-ide baru: ujar budayaman
Frans Magnis Suseno dalam Sarasehan Nasional Pengembangan Pendidikan Budaya dan
Karakter bangsa di Jakarta.
Kementrian
Pendidikan Nasioanal, menurut Frans magins, harus data menanamkan tiga nilai
pada setiap anak didik. Yakni, kemampuan menyatukan nilai, kemanusiaan yang adil
dan beradab, dan mempunyai rasa peka terhadap orang lain.
Mendiknas,
Mohammad Nuh menuturkan bahwa pendidikan budaya dan karakter bangsa adalah
pemikiran umum yang mempunyai derajat dan level tertentu. Cara-cara
pengembangannya perlu penyusunan lebih lanjut sebelum ditanamkan kepada setiap
siswa mulai dari TK hingga dewasa.
Kepala Pusat
Kurikulum (Puskur) Kemendiknas, Diah Harianti, mengakui bahwa banyak mata ajar
baru yang akan diluncurkan Kemendiknas, anatara lain perubahan iklim,
pendididkan karakter dan budaya bangsa, serta pelajaran anti korupsi. Namun,
dia menegaskan “ mata pelajaran baru harus punya penekanan yang jelas sehingga
tidak memberatkan siswa.”
2.3.2
Pendidikan Karakter yang Integral
Pendidikan
karakter hanya akan menjadi sekadar wacana jika tidak dipahami secara lebih
utuh dan menyeluruh dalam konteks pendidikan nasional kita. Bahkan, pendidikan
karakter yang dipahami secara persial dan tidak tepat sasaran justru malah
bersifat kontraproduktif bagi pembentukan karakter anak didik. Pendekatan
persial yang tidak didasari pendekatan pedagogi yang kokoh alih-alih menanamkan
nilai-nilai keutamaan dalam diri anak, malah akan menjerumuskan mereka pada
perilaku kurang bermoral. Selama ini, jika kita berbicara tentang pendidikan
karakter, yang kita bicarakan sesungguhnya adalah sebuah proses penanaman nilai
yang sering kali dipahami secara sempit, hanya terbatas pada ruang kelas, dan
sering kali pendekatan ini tidak didasari prinsip pedagogi pendidikan yang
kokoh.
2.3.3
Implementasi Pendidikan Karakter
Upaya untuk mengimplementasikan pendidikan karakter
adalah melalui Pendekatan Holistik, yaitu mengintegrasikan perkembangan
karakter ke dalam setiap aspek kehidupan sekolah. Berikut ini ciri-ciri
pendekatan holistik (Elkind dan Sweet, 2005).
1. Segala sesuatu
di sekolah diatur berdasarkan perkembangan hubungan antara siswa, guru, dan
masyarakat
2. Sekolah
merupakan masyarakat peserta didik yang peduli di mana ada ikatan yang jelas
yang menghubungkan siswa, guru, dan sekolah
3. Pembelajaran
emosional dan sosial setara dengan pembelajaran akademik
4. Kerjasama dan
kolaborasi di antara siswa menjadi hal yang lebih utama dibandingkan persaingan
5. Nilai-nilai
seperti keadilan, rasa hormat, dan kejujuran menjadi bagian pembelajaran
sehari-hari baik di dalam maupun di luar kelas
6. Siswa-siswa
diberikan banyak kesempatan untuk mempraktekkan prilaku moralnya melalui
kegiatan-kegiatan seperti pembelajaran memberikan pelayanan
7. Disiplin dan
pengelolaan kelas menjadi fokus dalam memecahkan masalah dibandingkan hadiah
dan hukuman
8. Model
pembelajaran yang berpusat pada guru harus ditinggalkan dan beralih ke kelas
demokrasi di mana guru dan siswa berkumpul untuk membangun kesatuan, norma, dan
memecahkan masalah
Sementara itu peran lembaga pendidikan atau sekolah
dalam mengimplementasikan pendidikan karakter mencakup (1) mengumpulkan guru,
orangtua dan siswa bersama-sama mengidentifikasi dan mendefinisikan unsur-unsur
karakter yang mereka ingin tekankan, (2) memberikan pelatihan bagi guru tentang
bagaimana mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam kehidupan dan budaya
sekolah, (3) menjalin kerjasama dengan orangtua dan masyarakat agar siswa dapat
mendengar bahwa prilaku karakter itu penting untuk keberhasilan di sekolah dan
di kehidupannya, dan (4) memberikan kesempatan kepada kepala sekolah, guru,
orangtua dan masyarakat untuk menjadi model prilaku sosial dan moral (US
Department of Education).
Mengacu pada konsep pendekatan holistik dan
dilanjutkan dengan upaya yang dilakukan lembaga pendidikan, kita perlu meyakini
bahwa proses pendidikan karakter tersebut harus dilakukan secara berkelanjutan
(continually) sehingga nilai-nilai moral yang telah tertanam dalam pribadi anak
tidak hanya sampai pada tingkatan pendidikan tertentu atau hanya muncul di
lingkungan keluarga atau masyarakat saja. Selain itu praktik-praktik moral yang
dibawa anak tidak terkesan bersifat formalitas, namun benar-benar tertanam
dalam jiwa anak.
2.3.4
Peran Pendidik dalam Membentuk Karakter SDM
Pendidik itu bisa guru, orangtua atau siapa saja,
yang penting ia memiliki kepentingan untuk membentuk pribadi peserta didik atau
anak. Peran pendidik pada intinya adalah sebagai masyarakat yang belajar dan
bermoral. Lickona, Schaps, dan Lewis (2007) serta Azra (2006) menguraikan
beberapa pemikiran tentang peran pendidik, di antaranya:
1. Pendidik perlu
terlibat dalam proses pembelajaran, diskusi, dan mengambil inisiatif sebagai
upaya membangun pendidikan karakter
2. Pendidik
bertanggungjawab untuk menjadi model yang memiliki nilai-nilai moral dan
memanfaatkan kesempatan untuk mempengaruhi siswa-siswanya. Artinya pendidik di
lingkungan sekolah hendaklah mampu menjadi “uswah hasanah” yang hidup bagi
setiap peserta didik. Mereka juga harus terbuka dan siap untuk mendiskusikan
dengan peserta didik tentang berbagai nilai-nilai yang baik tersebut.
3. Pendidik perlu
memberikan pemahaman bahwa karakter siswa tumbuh melalui kerjasama dan
berpartisipasi dalam mengambil keputusan
4. Pendidik perlu
melakukan refleksi atas masalah moral berupa pertanyaan-pertanyaan rutin untuk
memastikan bahwa siswa-siswanya mengalami perkembangan karakter.
5. Pendidik perlu
menjelaskan atau mengklarifikasikan kepada peserta didik secara terus menerus
tentang berbagai nilai yang baik dan yang buruk.
Hal-hal lain yang pendidik dapat lakukan dalam
implementasi pendidikan karakter (Djalil dan Megawangi, 2006) adalah: (1)
pendidik perlu menerapkan metode pembelajaran yang melibatkan partisipatif
aktif siswa, (2) pendidik perlu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif,
(3) pendidik perlu memberikan pendidikan karakter secara eksplisit, sistematis,
dan berkesinambungan dengan melibatkan aspek knowing the good, loving the
good, and acting the good, dan (4) pendidik perlu memperhatikan keunikan
siswa masing-masing dalam menggunakan metode pembelajaran, yaitu menerapkan
kurikulum yang melibatkan 9 aspek kecerdasan manusia. Agustian (2007) menambahkan
bahwa pendidik perlu melatih dan membentuk karakter anak melalui
pengulangan-pengulangan sehingga terjadi internalisasi karakter, misalnya
mengajak siswanya melakukan shalat secara konsisten.
Berdasarkan penjelasan di atas, saya mencoba
mengkategorikan peran pendidik di setiap jenis lembaga pendidikan dalam
membentuk karakter siswa. Dalam pendidikan formal dan non formal, pendidik (1)
harus terlibat dalam proses pembelajaran, yaitu melakukan interaksi dengan
siswa dalam mendiskusikan materi pembelajaran, (2) harus menjadi contoh
tauladan kepada siswanya dalam berprilaku dan bercakap, (3) harus mampu
mendorong siswa aktif dalam pembelajaran melalui penggunaan metode pembelajaran
yang variatif, (4) harus mampu mendorong dan membuat perubahan sehingga kepribadian,
kemampuan dan keinginan guru dapat menciptakan hubungan yang saling menghormati
dan bersahabat dengan siswanya, (5) harus mampu membantu dan mengembangkan
emosi dan kepekaan sosial siswa agar siswa menjadi lebih bertakwa, menghargai
ciptaan lain, mengembangkan keindahan dan belajar soft skills yang
berguna bagi kehidupan siswa selanjutnya, dan (6) harus menunjukkan rasa
kecintaan kepada siswa sehingga guru dalam membimbing siswa yang sulit tidak
mudah putus asa.
Sementara dalam pendidikan informal seperti keluarga
dan lingkungan, pendidik atau orangtua/tokoh masyarakat (1) harus menunjukkan
nilai-nilai moralitas bagi anak-anaknya, (2) harus memiliki kedekatan emosional
kepada anak dengan menunjukkan rasa kasih sayang, (3) harus memberikan
lingkungan atau suasana yang kondusif bagi pengembangan karakter anak, dan (4)
perlu mengajak anak-anaknya untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah,
misalnya dengan beribadah secara rutin.
Berangkat dengan upaya-upaya yang pendidik lakukan
sebagaimana disebut di atas, diharapkan akan tumbuh dan berkembang karakter
kepribadian yang memiliki kemampuan unggul di antaranya:
(1) karakter mandiri dan unggul,
(2) komitmen pada kemandirian dan kebebasan,
(3) konflik bukan potensi laten, melainkan situasi
monumental dan lokal,
(4) signifikansi Bhinneka Tunggal Ika, dan
(5) mencegah agar stratifikasi sosial identik dengan
perbedaan etnik dan agama (Jalal dan Supriadi, 2001: 49-50).
BAB III
Kesimpulan dan Saran
3.1
Kesimpulan
Pembentukan karakter SDM yang kuat sangat diperlukan
untuk menghadapi tantangan global yang lebih berat. Karakter SDM dalam dibentuk
melalui proses pendidikan formal, non formal, dan informal yang ketiganya harus
bersinergis. Untuk menyinergiskan, peran pendidik dalam pendidikan karakter
menjadi sangat vital sehingga anak didik atau SDM Indonesia menjadi manusia
yang religius, moderat, cerdas, dan mandiri sesuai dengan cita-cita dan tujuan
pendidikan nasional serta watak bangsa Indonesia
3.2
Saran
Globalisasi
adalah sesuatu hal yang harus dihadapi bukan untuk dijauhi atau menutup diri.
Yang perlu kita siapkan hanyalah pendidikan karakter yang mencangkup semua
generasi sehingga globalisasi dapat ditanggapi sebagai hal yang positif.

Comments
Post a Comment